Jumat, 05 Januari 2018

Mengenal Motif Batik Parang

Sebagai kekayaan warisan budaya dunia dari tanah air, batik memang sangat cukup dikenal masyarakat. Batik yang dulu diangap kuno namun kini menjadi trend dan melahirkan kebanggan bagi siapa yang mengenakannya.

Motif batik ada berbagai macam sesuai daerah asal maupun ciri pewarnaannya. Sebagai sebuah karya seni, batik memiliki cerita serta makna yang terkandung dalam setiap motifnya. Bahkan tak jarang motif batik juga dijadikan simbol kasta seseorang karena nilai filosofi yang terkandung di dalamnya.

Diantara berbagai motif batik yang cukup populer dan paling dikenal yakni Parang. Secara umum motif Parang identik dengan beralur miring 45 derajat, bentuk dan corak terus menyambung tanmpa putus dan perpaduan warna yang tegas. Zaman dahulu batik bercorak parang biasanya hanya diperuntukkan para kasta dan penguasa.

Tak banyak diketahui ternyata batik Parang memiliki berbagai motif serta kombinasi warna yang berlainan satu dengan lainnya. Masing-masing motif memiliki filosofi serta makan yang berbeda serta peruntukan pemakaiannya. Berikut beberapa motif batik Parang.

Parang Rusak




Konon motif Parang Rusak tercipta ketika Danang Sutowijoyo tengah meditasi di Pantai Selatan. Tokoh yang bergelar Panembahan Senopati ini terinspirasi dari ombak besar yang terus menghantam bebatuan laut hingga membuat karang tersebut rusak.

Senin, 20 November 2017

Hebat, DIY Juara Umum Karnaval Keprajuritan Nusantara



Tim Daerah Istimewa Jogjakarta dinobatkan sebagai juara umum Karnaval Keprajuritan Nusantara 2017. Dalam event yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta kemarin (19/11), tim Jogjakarta mendominasi sebagian besar kategori lomba.

Membawakan tema Perang Diponegoro, tim Jogjakarta mendapat nilai tertinggi di dua kategori. Yakni, atraksi dan arak-arakan. Jogjakarta juga berhasil menempati urutan kedua di bawah Bali dalam kategori lima tim unggulan. Jogjakarta mengungguli Jawa Tengah, Jambi, dan Banten.

Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono hadir langsung untuk memimpin tim Jogjakarta. “Jogjakarta itu ada begitu banyak prajurit. Prajurit tidak hanya di Kraton Jogja. Prajurit juga ada di kampung-kampung,” jelasnya.

Hadir pula Kepala Dinas Kebudayaan Sleman Aji Wulantara, Camat Gamping Abu Bakar, dan Kepala Desa Ambarketawang Sumaryanto.

Sementara itu, Aji Wulantara menyatakan sangat bahagia dengan gelar juara umum Karnaval Keprajuritan Nusantara 2017. “Sebenarnya, kita ini memiliki semangat keprajuritan. Misalnya, kalau pas ada upacara peringatan hari jadi Sleman turun hujan deras pun kita tidak mingset. Para pegawai tetap mengikutinya dengan baik sampai selesai,” kata Aji.

sumber radar jogja